Baubau - Sebagai bagian dari komitmen dalam memperkuat sistem pengawasan keamanan obat di Indonesia, Balai POM di Bau-Bau menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Farmakovigilans kepada Tenaga Kesehatan/ Tenaga Medis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan pada Kamis (21/05), bertempat di Aula Kantor Balai POM di Bau-Bau. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari 25 sarana pelayanan kesehatan di wilayah pengawasan Balai POM di Bau-Bau.
Pelatihan dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) dengan tujuan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dan tenaga medis dalam memperluas pemahaman serta meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya penerapan Farmakovigilans. Kegiatan ini juga bertujuan mendorong peran aktif tenaga kesehatan dalam mendeteksi dan melaporkan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) atau Efek Samping Obat (ESO) yang terjadi selama penggunaan sediaan farmasi di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai POM di Bau-Bau, Ryanperi Kusuma. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya keterlibatan tenaga kesehatan dalam sistem Farmakovigilans sebagai upaya bersama untuk menjamin keamanan penggunaan obat dan meningkatkan keselamatan pasien.
Rangkaian pelatihan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai Pengertian dan Pentingnya Farmakovigilans serta pemahaman terkait Kejadian Tidak Diinginkan (KTD)/ Efek Samping Obat (ESO) oleh Bapak Ryanperi Kusuma. Materi berikutnya membahas tata cara pelaporan KTD/ ESO dan simulasi pelaporan menggunakan aplikasi e-Meso 2.0 yang disampaikan oleh Ibu Anggun Dwi Yanti selaku Focal Point Farmakovigilans Balai POM di Bau-Bau. Peserta yang hadir berasal dari berbagai Rumah Sakit dan Puskesmas di wilayah pengawasan Balai POM di Bau-Bau. Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi dan simulasi pelaporan, yang menjadi sarana penguatan kapasitas dalam implementasi pelaporan efek samping obat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman, kompetensi, dan peran aktif tenaga kesehatan dalam pelaksanaan Farmakovigilans semakin meningkat, khususnya dalam pemantauan keamanan obat dan pelaporan efek samping obat. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat jejaring Farmakovigilans Nasional melalui peningkatan jumlah tenaga kesehatan yang memahami dan aktif melaksanakan pelaporan kejadian efek samping obat guna mendukung keselamatan pasien yang lebih optimal. (Infokom - Rifandy)